Tomoyo Douduoji

Kamis, 04 November 2010

JURNAL EKOLOGI TUMBUHAN


Inventarisasi Tumbuhan Tingkat Rendah & Jamur pada  Zona Peralihan Cagar Alam Raya Pasi  Gunung Nek Pading Singkawang, Kalimantan Barat

Dwi Hardiyanto, Eni Setianingsi, Hening P.N, Ika Kartika, Ratna Paramita
Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas TanjungPura.
Jln. A. Yani, Pontianak, Kalimantan Barat Telp. 78124

ABSTRACT
Indonesia is one country that has a tropical climate. This tropical climate affect existing forest types in Indonesia, the Tropical Rain Forest. One characteristic of tropical rain forest spesies diversity is contained in it is very high, such as low levels of plant diversity. The purpose of this research is to find low levels of plant diversity and fungi that can do an inventory of these plants.The method used in this study is to explore methods to record low levels of spesies of plants and fungi in the path specified. The frequency of the most common spesies appear is Pityrogramma calomelanos and Drymoglosum piloselloides an almost in every track. The frequency of spesies is the least class Lichenes and moss with Parmelia aceptabulum; Bryum sp and Pshycomitrium pyriformae. So, in Mount Granny there Pading low diversity of plants and fungi levels are varied.
Keywords: Low Level Plant, Spesies Diversity, Frequency.

PENDAHULUAN
Kawasan Cagar Alam Raya Pasi Gunung Nek Pading merupakan salah satu bagian dari tipe hutan hujan tropis. Hutan hujan tropis merupakan suatu komunitas yang sangat kompleks dengan ciri utama ialah pepohonan dengan berbagai ukuran. Kanopi hutan menyebabkan iklim mikro yang berbeda dengan keadaan di luarnya, cahaya yang kurang dan kelembaban yang lebih tinggi dengan suhu yang rendah (Whitmore, 1998). 
Bioma Hutan Basah terdapat di daerah tropika dan subtropik.
Ciri-cirinya adalah, curah hujan 200-225 cm per tahun. Species pepohonan relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinngi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi). Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro (iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme). Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari. Variasi suhu dan kelembapan tinggi/besar; suhu sepanjang hari sekitar 25°C. Dalam hutan basah tropika sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan), kaktus, dan anggrek sebagai epifit. Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.
Di dalam hutan hujan tropis ini terdapat berbagai keanekaragaman tumbuhan tingkat  rendah, baik dari divisi Algae (ganggang), Bryophyta (lumut), Lichenes, Pterydophyta dan Fungi (jamur). 

Struktur Hutan
Kekayaan flora yang melimpah dihutan basah dataran rendah sampai tingkat tertentu merupakan akibat struktur vegetasi yang sangat rumit. Pohon-pohon tinggi sebagai kerangka dan suatu lingkungan yang didalamnya tumbuh pohon-pohon yang lebih kecil dan tumbuh-tumbuhan lainnya. Richard (1952) memberikan suatu klasifikasi yang berguna mengenai tumbuh-tumbuhan hutan basah dataran rendah yang selalu hijau.
*      Tumbuhan Autotrof (berklorofil), meliputi :
  1. Tumbuhan secara mekanis tidak bergantung pada tumbuhan lain, misalnya :
    1. Pohon-pohon besar/kecil
    2. Terna
  2. Tumbuhan secara mekanis bergantung pada tumbuhan lain, misalnya :
    1. Pemanjat
    2. Pencekik
    3. Epifit
*      Tumbuhan Heterotrof (tanpa klorofil), meliputi :
  1. Saprofit
  2. Parasit
 Hutan Kerangas
            Hutan kerangas merupakan formasi hutan dataran rendah yang paling berbeda dan mudah dikenali. Istilah kerangas berasal dari bahasa Iban yang berarti tanah yang tidak dapat ditumbuhi padi. Hutan kerangas terdapat di atas tanah yang berasal dari batuan induk yang mengandung kuarsa. Pada dasarnya tanah ini miskin basah, sangat masam, bertekstur kasar dan bebas tersalir. Tanah semacam ini sering disebut tanah pasir putih. Inilah karakter fisik dan struktur hutan kerangas, walaupun beberapa jenis pohon sangat umum terdapat di hutan kerapah.

Komunitas Tanah dan Serasah
Tumbuhan hijau (autotrof) menyediakan substrat makanan bagi binatang, jamur dan bakteri (heterotrof). Tumbuhan heterotrof yang menguraikan organisme mati disebut pengurai, yang terutama aktif di dalam hutan yang mengalami pembusukan dari tahap dewasa sampai tahap terjadinya rumpang didalam daur pertumbuhan hutan dan didalam lapisan lantai hutan. Penguraian menghasilkan hara tumbuhan dan karbondioksida yang kemudian tersedia kembali bagi tumbuhan hijau. Laju pengurai dapat diukur dari respirasi tanah, nisbah antara serasah yang jatuh dan jumlah serasah dilantai hutan dan melalui laju kehilangan bobot serasah yang dibungkus dalam kantung yang berlubang-lubang.
            Dengan mereduksi serasah menjdi butir-butir yang halus, bidang permukaan untuk pembusukan oleh bakteri dan jamur diperluas dan dicampur dengan mineral tanah. Rayap sepintas lalu menyerupai semut, tetapi sebenarnya tergolong dalam suku yang sama sekali berbeda yaitu Isoptera, yang berkerabat dekat dengan kecoa. Kebanyakan invertebrata pengurai didalam tanah hutan dataran rendah bergantung pada jamur dan bakteri, yang hidup bebas untuk memecah bahan tumbuhan yang tidak tercerna menjadi bentuk yang dapat mereka gunakan.
Lichenes adalah simbiosis antara ganggang dengan jamur, ganggangnya berasal dari ganggang hijau atau ganggang biru. Jamurnya berasal dari Ascomycotina atau Basidiomycotina. Lichenes tergolong tumbuhan pionir atau vegetasi perintis karena mampu hidup di tempat-tempat yang ekstrim.
Jamur merupakan tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga bersifat heterotrof (Stephen Bresneck, M. D. 2003).
Hutan hujan ini sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup tumbuhan tingkat rendah.  Karena keanekaragaman tumbuhan tingkat rendah di daerah ini belum diketahui, maka perlu dilakukan pencacahan terhadap tumbuhan tingkat rendah yang ada di hutan tersebut, sehingga dapat dilakukan inventarisasi terhadap tumbuhan tingkat rendah. Penelitian ini bertujuan menginventarisasi tumbuhan tingkat rendah dan jamur pada zona peralihan di Gunung Nek Pading, Singkawang, Kalimantan Barat.

    BAHAN DAN METODE
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode jelajah,  dengan menggunakan 4 jalur transek,  dengan panjang tiap transek  100 meter. Transek disusun secara paralel dengan jarak antar transek 150  m. kemudian pendataan dan pengambilan foto pada area penelitian dilakukan pada jarak pandang 5 meter disebelah kiri dan kanan dari setiap jalur yang dilalui.
Lokasi penelitian  yaitu  di kawasan Cagar Alam Raya Pasi  Gunung Nek Pading Singkawang, yang secara geografis terletak antara 108º 59'00”- 109º07'40” BT dan 0º 48'30”-0º59'00” LU. Secara administrasi termasuk kedalam Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat. Adapun pelaksanaan penelitian dilakukan pada tanggal 21-28 November 2009.

                     HASIL

Tabel 1. Gambar 12 spesies jamur dengan frekuensi ditemukan di plot

No
Jenis Jamur
F
1

Jamur  mangkok belacan
11
2

janyeret5.JPG
Jamur janyeret
7
3

100_1744
Jamur Santak mentari
7
4

100_1731
Jamur putih
6
5

kelapa'.JPG
Jamur emperemang
5
6

tepu'.JPG
Jamur katungu
4
7

100_1745
Jamur nyiur
4
8

katungu1.JPG
Jamur tepu’
3
9

Jamur kaw moot
2
10

100_1748
Auricularia polytricha
2
11

garot.JPG
Jamur Garot
1
12

CIMG7816
Clavaria
1

Tabel 2. Gambar 10 spesies paku dengan frekuensi ditemukan di plot
No
Jenis Paku
F
1

Drymoglosum piloselloides
25
2

100_1733

Pityrogramma calomelanos
24
3

Gleichenia linearis
22
4


Dryopteris felixmas
20
5


Hymenophillium australe
18
6

DSC03421

Asplenium baense
9
7

100_1742

Paku Raribu Daun Besar
5
8

100_1736

Pteredium aquillum
3
9


Drynaria quercifolia
1
10


Paku jarum
1



Tabel 3 & 4. Gambar 2 spesies lumut dan 1 spesies lichenes dengan frekuensi ditemukan di plot


No
Jenis Lumut
F
1

Pshycomitrium pyriformae
6
2

100_1738
Bryum sp
5

No
Jenis Lichenes
F
1

CIMG7797

Parmelia aceptubulum
3
PEMBAHASAN


No
Jenis Jamur
Habitat
F
1
Jamur mangkok belacan
Serasah tanah
11
2
Jamur janyeret
Serasah tanah
7
3
Jamur santak mantari
Batang kayu
7
4
Jamur putih
Batang kayu
6
5
Jamur  emperemang
Serasah tanah
5
6
Jamur katungu
Serasah tanah
4
7
Jamur nyiur
Batang/kulit kayu
4
8
Jamur tepu’
Serasah tanah
3
9
Jamur kaw moot
Batang kayu
2
10
Auricularia polytricha
Serasah tanah
2
11
Jamur garot
Kulit kayu
1
12
Clavaria
Batu
1


No
Jenis Paku
Habitat
F
1
Drymoglosum piloselloides
Batang pohon
25
2
Pityrogramma calomelanos
Serasah tanah
24
3
Gleichenia linearis
Serasah tanah
22
4
Dryopteris felixmas
Serasah tanah
20
5
Hymenophillium australe
Serasah tanah
18
6
Asplenium baense
Batang pohon
9
7
Paku Raribu Daun Besar
Serasah tanah
5
8
Pteredium aquillum
Serasah tanah
3
9
Drynaria quercifolia
Batang pohon
1
10
Paku jarum
Serasah tanah
1


No
Jenis Lumut
Habitat
F
1
Pshycomitrium pyriformae
Batu
6
2
Bryum sp
Batang pohon /kulit kayu
5


No
Jenis Lichenes
Habitat
F
1
Parmelia aceptubulum
Batang pohon
3


Fungi hidup pada lingkungan yang beragam, namun sebagian besar jamur hidup di tempat yang lembab. Habitat fungi berada di darat (terestrial) dan di tempat yang lembab. Fungi juga dapat hidup di lingkungan yang asam (Suriawiria. 1986).

Sedangkan pada Pteridophyta, pertumbuhannya dipengaruh oleh beberapa faktor, diantaranya adalah cahaya , hujan , angin ,perubahan suhu dan tumbuhan lain disekitarnya yang digunakan sebagai tempat hidup (Campbell. 2004).

Dari hasil penelitian tahun yang lalu tentang inventarisasi tumbuhan tingkat rendah jumlah Golongan tumbuhannya tidak jauh berbeda, dimana terdapat 11 spesies jamur, 8 spesies paku, 4 spesies lumut dan 1 spesies lichenes. Jika dibandingkan dengan inventarisasi yang kami lakukan sekarang yaitu 12 spesies jamur, 10 spesies paku, 2 spesies lumut dan 1 spesies Lichenes. Adapun Frekuensi Spesies tumbuhan tingkat rendah dan jamur yang didapatkan adalah sebagai berikut :

}  Sering muncul ialah golongan pterydophyta (Pityrogramma calomelanos dan Drymoglosum piloselloides)
}  Jarang muncul ialah lichenes dan bryophyta (Parmelia aceptabulum ; Bryum sp dan Pshycomitrium pyriformae)

Perbedaan frekuensi ini disebabkan oleh suhu udara yang tinggi dan suhu tanah yang rendah yang diperoleh dari data fisiko kimia pada trek yang kami jelajahi pada zona peralihan Gunung Nek Pading, Singkawang.

KESIMPULAN

}  Inventarisasi tumbuhan tingkat rendah di Gunung Nek Pading, Singkawang terdiri dari Fungi, Bryophita, Lichenes dan Pterydophita.

}  Terdapat 12 spesies Jamur, 10 Spesies Paku, 2 Spesies Lumut dan 1 Spesies Lichenes.

}  Frekuensi spesies yang paling sering muncul ialah Pityrogramma calomelanos dan Drymoglosum  piloselloides.

}  Frekuensi spesies yang paling sedikit ialah golongan lichenes dan lumut dengan Parmelia aceptabulum ; Bryum sp dan Pshycomitrium pyriformae.

}  Secara keseluruhan, berdasarkan data yang didapat persebaran tumbuhan tingkat rendah dan jamur lumayan merata, karena spesies yang ditemukan terletak hampir disemua plot.

UCAPAN TERIMA KASIH

ü  Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Singkawang.

ü  Brigadir Pengendali Kebakaran Hutan (BRIGDALKAR) Singkawang.

ü  Universitas Tanjungpura Pontianak.

ü  Dosen Pengampu Mata Kuliah Ekologi Tumbuhan (Dra. Entin Daningsih, M.Sc, Ph.D dan Affandi S.Pd).

ü  Asisten Pembimbing Lapangan.

ü  Pak Po’on, serta Pak Apon.


DAFTAR PUSTAKA

Bresneck, Stephen, M.D. 2003. Intisari Biologi. Jakarta : PT. Hipokrates

Campbell. N. 2004. Biologi Jilid 2. Jakarta : PT. Erlangga


Soemarwoto, Idjah, dkk. 1989. Biologi Umum I.Jakarta : PT.           Gramedia

Soemarwoto, Otto. 1926. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta : Djambatan

Suriawiria, S. Unus. 1986. Pengantar Untuk Mengenal dan Menanam  Jamur. Bandung : PT. Angkasa

Sutarno. 1984. Biologi. Surakarta : PT. Widya Duta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar